Rabu, 10 Juni 2015

satu malam di puncak Gunung Sariyafati, Riam Kanan.

hai sobat rimba... ketemu lagi nih. kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan kami yang agak berbau horor di Riam Kanan. tepatnya puncak Gunung Sariyafati.
oke langsung saja, hari ini, hari selasa tanggal 9 Juni 2015 pukul 14:00 WIT. Rencananya mau berangkat ke Riam Kanan bersama teman-teman untuk menikmati malam di atas puncak Gunung Sariyafati. Berangkat dari Banjarmasin menuju Banjarbaru agak terburu-buru soalnya sudah ditunggu sama teman yang datang jauh-jauh dari Amuntai, yah ga enaklah kalau mereka yang datang dari jauh-jauh terpaksa harus menunggu lama lagi. Terpaksa saya harus tancap gas agak ugalan-ugalan dikitlah tapi saya juga mengingat akan pentingnya keselamatan. Sampai di Lianganggang awan mendung sudah mulai menurunkan air hujannya, gerimis. Meskipun sudah mulai gerimis saya tetap melajukan motor yang saya tunggangi tanpa menghiraukan jaket yang sudah mulai kuyup. Tepat sesudah melewati bundaran lapangan pesawat Syamsudinnor sayapun terpaksa berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan. Hujan turun dengan derasnya tetapi Alhamdulillah sewaktu sampai di bundaran simpang empat Banjarbaru, tempat teman saya menunggu, ternyata disana tidak turun hujan sama sekali.
Sesampainya disana saya dan teman yang saya boncengi pun melepaskan jas hujan yang kami kenakan. Eh lupa, kali ini jumlah kami yang naik gunung cuman lima orang termasuk saya, dua orang berangkat dari Amuntai tiga orang termasuk saya dari Banjarmasin. tidak banyak bertele-tele kami berlima pun langsung capcus menuju Riam Kanan, rencananya mau menikmati sunset dari puncak tapi …. Yah yang namanya juga manusia cuman bias berencana dan tuhan yang menentukan rencana kita. Sebelum mencapai Riam Kanan kami kembali dibasahi oleh derasnya hujan dan ini lebih deras dari yang pertama tadi, tapi kami tetap meneruskan perjalanan dan sebelumnya kami berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan masing-masing. Ingat salah satu perlengkapan outdor adalah jas hujan karena kita tidak tau cuaca akan bersahabat atau tidak, selain itu jas hujan juga bisa kita gunakan sebagai alas bagi yang lupa bawa matras, he…. Yap lanjut.
Meski sudah mengenakan jas hujan tetap aja baju yang kami kenakan basah, meski ga terlalu basah juga… sesampainya di parkiran Riam Kanan kami tidak langsung naik kepuncak, melainkan menunggu hujan reda. Sambil menunggu hujan reda kamipun berbincang-bincang dengan paman penjaga parker. “Mau naik kemana mas hujan-hujan gini” kata paman parker. “Naik ke gunung yang di sebelahnya Paliangan paman” kata kami. “hati-hati nanti waktu di puncak” kata pamannya lagi. “emangnya ada apa paman”  Tanya kami penasaran. “malam sebelumnya para pendaki yang naik ke Paliangan ada yang melihat cewe beramput panjang pakai baju putih duduk di atas pohon”. Kami cuman diam seakan ingin mendengarkan cerita paman parker lebih lagi. Kata pamannya lagi “sebenarnya puncak yang disananya Paliangan itu juga ada penunggunya, yang bisa lihat, katanya makhluk itu bertubuh besar kaya raksasa”. Kami cuman bisa menjawab “inggih paman”. “yah selama kita tidak mengganggu mereka, mereka juga ga bakalan mengganggu kita” kata salah satu temanku untuk menenangkan kami. Hujan pun reda saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17:? Kami pun naik tanpa menghiraukan apa yang telah paman parker ceritakan tadi. Awal-awal pendakian, sudah terasa menantang soalnya untuk menuju puncak Paliangan saja harus melewati jalan yang curam dan Alhamdulillah di jalan-jalan yang curam dikasih tali utuk mendaki ke atas oleh para penduduk local. Sesampainya di puncak Paliangan hujan gerimis mulai mengguyuri kami kembali tapi itu tidak menyurutkan keinginan kami yang ingin menikamati malam di atas puncak Sariyafati. Sebenarnya perjalanan kali ini bisa dibilang opentrip karena hamper tidak ada jalur jalan menuju Sariyafati. Perlahan namun pasti kami melangkahkan kaki meski adzan magrib sudah berkumandang dan gerimisnya hujan yang tak berhenti. Sekitar satu jam setengah kamipun akhirnya sampai di puncak Sariyafati. Kami pun bergegas mendirikan tenda takutnya hujan semakin deras. Tenda pun udah selesai dan hujanpun berhenti. Alhamdulillah… abis sholat isya kami pun memasak nasi di nesting dengan lauk seadanya, iwak karing saluang lawan hantalu bacacapan. Hen nyaman kalo. Sewaktu makan kataku kepada temen-temen. “ini memang makanan sederhana dan ditempat yang tidak mewah, tetapi orang-orang kaya ga bakalan ngerasain bagaimana nikmatnya makanan yang sedang kita santap saat ini”, “kebersamaan” tambah temanku, “iya-iya” kata temen-teman yang lain mengiyakan apa yang kami katakana tadi.
Dua tenda yang kami pasang kami jadikan satu, dua cewe dalam tenda satunya sedangkan kami cowo bertiga dalam satu tenda, dan Alhamdulillah kami berlima muat berkat dua tenda yang kami jadiin seperti satu tenda. Bingung bagaimana caranya menjadikan dua tenda menjadi satu? Makanya sering-sering naik gan, sis… he… nanti kalau kepepet juga kalian bakalan tau bagaimana caranya :D. oke terus ke alur cerita, setelah makan kami pun bercanda gurau dalam tenda mulai dari omong ini itu sampai pukul 23:47 malam, tanpa kami sadari omongan kamipun mulai agak berkurang dan saya sendiri sudah tidak sadar pergi kealam mimpi. Mentaripun terbit dengan di iringi tebalnya awan di upuk timur, sehingga kamipun tidak bisa menikmati indahnya sunrise di Pucak Sariyafati. Dan Alhamdulillahnya lagi kami ga diganggu oleh makluh halus tadi malam. Yah selama kita sopan orang pun segan. He..


Menikmati keindahan Riam Kanan di pagi hari dari puncak Sariyafati


Keindahan yang kalian lihat di foto jauh lebih indah dengan pemandangan yang disaksikan dengan mata sendiri


Sebelum turun, foto bersama-sama terlebih dulu

puncak Paliangan


Kalau ada waktu sempat-sempatlah mampir kemari



Nb : habiskan waktumu dengan hal yang bermanfaat, baik itu pikiran, waktu dan keuangan.

2 komentar: