hai sobat rimba... ketemu lagi nih. kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan kami yang agak berbau horor di Riam Kanan. tepatnya puncak Gunung Sariyafati.
oke langsung saja, hari
ini, hari selasa tanggal 9 Juni 2015 pukul 14:00 WIT. Rencananya mau berangkat
ke Riam Kanan bersama teman-teman untuk menikmati malam di atas puncak Gunung
Sariyafati. Berangkat dari Banjarmasin menuju Banjarbaru agak terburu-buru
soalnya sudah ditunggu sama teman yang datang jauh-jauh dari Amuntai, yah ga
enaklah kalau mereka yang datang dari jauh-jauh terpaksa harus menunggu lama
lagi. Terpaksa saya harus tancap gas agak ugalan-ugalan dikitlah tapi saya juga
mengingat akan pentingnya keselamatan. Sampai di Lianganggang awan mendung
sudah mulai menurunkan air hujannya, gerimis. Meskipun sudah mulai gerimis saya
tetap melajukan motor yang saya tunggangi tanpa menghiraukan jaket yang sudah
mulai kuyup. Tepat sesudah melewati bundaran lapangan pesawat Syamsudinnor
sayapun terpaksa berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan. Hujan turun
dengan derasnya tetapi Alhamdulillah sewaktu sampai di bundaran simpang empat
Banjarbaru, tempat teman saya menunggu, ternyata disana tidak turun hujan sama
sekali.
Sesampainya
disana saya dan teman yang saya boncengi pun melepaskan jas hujan yang kami
kenakan. Eh lupa, kali ini jumlah kami yang naik gunung cuman lima orang
termasuk saya, dua orang berangkat dari Amuntai tiga orang termasuk saya dari
Banjarmasin. tidak banyak bertele-tele kami berlima pun langsung capcus menuju
Riam Kanan, rencananya mau menikmati sunset dari puncak tapi …. Yah yang
namanya juga manusia cuman bias berencana dan tuhan yang menentukan rencana
kita. Sebelum mencapai Riam Kanan kami kembali dibasahi oleh derasnya hujan
dan ini lebih deras dari yang pertama tadi, tapi kami tetap meneruskan
perjalanan dan sebelumnya kami berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan
masing-masing. Ingat salah satu perlengkapan outdor adalah jas hujan karena
kita tidak tau cuaca akan bersahabat atau tidak, selain itu jas hujan juga bisa
kita gunakan sebagai alas bagi yang lupa bawa matras, he…. Yap lanjut.
Meski
sudah mengenakan jas hujan tetap aja baju yang kami kenakan basah, meski ga
terlalu basah juga… sesampainya di parkiran Riam Kanan kami tidak langsung naik
kepuncak, melainkan menunggu hujan reda. Sambil menunggu hujan reda kamipun
berbincang-bincang dengan paman penjaga parker. “Mau naik kemana mas hujan-hujan
gini” kata paman parker. “Naik ke gunung yang di sebelahnya Paliangan paman”
kata kami. “hati-hati nanti waktu di puncak” kata pamannya lagi. “emangnya ada
apa paman” Tanya kami penasaran. “malam
sebelumnya para pendaki yang naik ke Paliangan ada yang melihat cewe beramput
panjang pakai baju putih duduk di atas pohon”. Kami cuman diam seakan ingin
mendengarkan cerita paman parker lebih lagi. Kata pamannya lagi “sebenarnya
puncak yang disananya Paliangan itu juga ada penunggunya, yang bisa lihat, katanya makhluk itu bertubuh besar kaya raksasa”. Kami cuman bisa menjawab “inggih
paman”. “yah selama kita tidak mengganggu mereka, mereka juga ga bakalan
mengganggu kita” kata salah satu temanku untuk menenangkan kami. Hujan pun reda
saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17:? Kami pun naik tanpa menghiraukan apa
yang telah paman parker ceritakan tadi. Awal-awal pendakian, sudah terasa
menantang soalnya untuk menuju puncak Paliangan saja harus melewati jalan yang
curam dan Alhamdulillah di jalan-jalan yang curam dikasih tali utuk mendaki ke
atas oleh para penduduk local. Sesampainya di puncak Paliangan hujan gerimis
mulai mengguyuri kami kembali tapi itu tidak menyurutkan keinginan kami yang
ingin menikamati malam di atas puncak Sariyafati. Sebenarnya perjalanan kali
ini bisa dibilang opentrip karena hamper tidak ada jalur jalan menuju
Sariyafati. Perlahan namun pasti kami melangkahkan kaki meski adzan magrib
sudah berkumandang dan gerimisnya hujan yang tak berhenti. Sekitar satu jam
setengah kamipun akhirnya sampai di puncak Sariyafati. Kami pun bergegas
mendirikan tenda takutnya hujan semakin deras. Tenda pun udah selesai dan
hujanpun berhenti. Alhamdulillah… abis sholat isya kami pun
memasak nasi di nesting dengan lauk seadanya, iwak karing saluang lawan hantalu
bacacapan. Hen nyaman kalo. Sewaktu makan kataku kepada temen-temen. “ini
memang makanan sederhana dan ditempat yang tidak mewah, tetapi orang-orang kaya
ga bakalan ngerasain bagaimana nikmatnya makanan yang sedang kita santap saat
ini”, “kebersamaan” tambah temanku, “iya-iya” kata temen-teman yang lain
mengiyakan apa yang kami katakana tadi.
Dua
tenda yang kami pasang kami jadikan satu, dua cewe dalam tenda satunya
sedangkan kami cowo bertiga dalam satu tenda, dan Alhamdulillah kami berlima
muat berkat dua tenda yang kami jadiin seperti satu tenda. Bingung bagaimana
caranya menjadikan dua tenda menjadi satu? Makanya sering-sering naik gan, sis…
he… nanti kalau kepepet juga kalian bakalan tau bagaimana caranya :D. oke terus
ke alur cerita, setelah makan kami pun bercanda gurau dalam tenda mulai dari
omong ini itu sampai pukul 23:47 malam, tanpa kami sadari omongan kamipun mulai
agak berkurang dan saya sendiri sudah tidak sadar pergi kealam mimpi.
Mentaripun terbit dengan di iringi tebalnya awan di upuk timur, sehingga
kamipun tidak bisa menikmati indahnya sunrise di Pucak Sariyafati. Dan
Alhamdulillahnya lagi kami ga diganggu oleh makluh halus tadi malam. Yah selama
kita sopan orang pun segan. He..
Menikmati keindahan Riam Kanan di
pagi hari dari puncak Sariyafati
Keindahan yang kalian lihat di
foto jauh lebih indah dengan pemandangan yang disaksikan dengan mata sendiri
Sebelum turun, foto bersama-sama
terlebih dulu
puncak Paliangan
Kalau ada waktu sempat-sempatlah mampir kemari
Nb :
habiskan waktumu dengan hal yang bermanfaat, baik itu pikiran, waktu dan
keuangan.
















