Selasa, 27 Oktober 2015

edisi G. Halau-halau 1.901 MDPL.


Hey sobat rimba… ketemu lagi nih. Kali ini ane bakalan posting tentang perjalanan kami mendaki Gunung Halau-halau selama satu hari mendaki satu hari turun. Sebelum ceritanya anel lanjutin kayanya ane harus jelasin dulu tentang gunung yang kami daki ini. J
Gunung Halau-halau adalah salah satu gunung yang berada di kawasan pegunungan meratus dan ketinggiannya mencapai 1.901 MDPL. Meratus merupakan kawasan pegunungan yang membelah Provinsi Kalimantan Selatan menjadi dua, membentang sepanjang ± 600 km² dari arah tenggara dan membelok ke arah utara hingga perbatasan Kalimantan Timur. Ah itu ajalah penjelasannya kalau mau tau lebih banyak lagi tentang pegunungan meratus silahkan browsing lagi ama mbah google J. Oke, kembali kecerita.
Sebenarnya udah lama banget pengen jelajah Gunung Halau-halau tapi tidak pernah kesampaian, yah penyebabnya karena ga ada temen yang ngajak. Kita sih pernah ngajak temen-temen kesana juga tapi temen yang diajak juga ga tau jalur jalan pendakian, jadi dari dulu yang ada cuman rencana demi rencana sampai akhirnya ane dikenalin temen perempuan ane sama temennya, komunitas pecinta alam, Fany Wijaya namanya dia cowo ye bukan cewe. Nah dari perkenalan ini akhirnya rencana ke Gunung Halau-halau terwujud, yah sebelum ke Halau-halau sebenarnya kami mendaki Gunung Hauk 1.325 MDPL terlebih dahulu, yah untuk edisi G. Hauk nanti ya kita certain, dilain waktu. J oke singkat cerita akhirnya kita sepakat naik G. Halau-halau pada hari sabtu tanggal 13 Juni 2015. Jadi sore Jumat kita berangkat dari Banjarmasin ke Amuntai, tempatnya Fany temen ane, nginap satu malam di rumahnya. Nah di tempat dia tuh kita dilayanin kaya raja gan semua keluarganya ramah-ramah ama kita, he… meski sederhana tapi luar biasa lah. Abis shalat subuh kita dikasih makan lagi ama keluarganya abis tuh kita berangkat lagi ke Berabai ngambil temen satu persatu. Eh hamper lupa kali ini jumlah kami yang mendaki ada 10 orang gan, dari Banjarmasin 5 orang termasuk saya sendiri dan sisanya temen yang dari Berabai. Yah langsung saja sebenarnya pendakian kali ini agak telat dari jadwal karena ada sedikit gangguan. Hee… rencananya mulai mendaki pada pukul 08:00 tapi terlambat 1 jam lebih, jadi kami mulai mendaki pada pukul 09:15 WIT cus puncak.
Sebelum melakukan pendakian kami terlebih dahulu berdoa bersama demi keselamatan dan berharap tidak mendapat musibah. Perjalananpun dimulai. Musibah pun terjadi dan Alhamdulillah masih tidak terlalu jauh dari perkampungan setempat, salah satu temen kami yang dari Banjarmasin ada yang pingsan karena kelelahan, seluruh tubuhnya pucak pekat, bukan karena diserang oleh makhluk halus atau apa tetapi karena fisik yang belum siap jadi terpaksa harus kami tinggalkan diperkampungan warga setempat (Desa Kiyu). Kalau dilihat disini kami seperti egois, meninggalkan teman sendiri tapi mau bagaimana lagi, kami melakukannya demi keselamtannya sendiri dan kami juga tidak mau mengambil resiko kalau terjadi apa-apa nantinya diperjalanan, jadi dengan terpaksa harus kami tinggalkan.
Biasanya orang-orang yang mendaki G. Halau-halau mengahabiskan waktu selama 2 hari untuk pendakian tapi kali ini kami berencana hanya 1 hari pendakian dan 1 hari turun, jadi hari minggu sudah berada di bawah. Perjlananpun masih berlanjut meski kaki sudah mulai terasa lelah ingin berhenti, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 1 siang kami pun beristirahat, dan Alhamdulillah tidak jauh dari peristirahatan ada pohon kelapa, he he…. Pas banget panas-panas dan capek kaya gini minum air kelapa, yah salah satu temen kami pun cus langsung naikin tuh pohon kelapa dan memilih yang muda-muda untuk diminum biar tambah seger dan menambah ion tubuh. J setelah minum kami pun meneruskan perjalanan, tidak jauh dari tempat tadi akhirnya kami sampai di Sungai Karuh, biasanya tempat ini menjadi tempat persinggahan untuk bermalam bagi pendaki yang mengambil 2 hari pendakian. Setelah meletakkan tas carrier yang lumayan berat untuk rebah sejenak, istirahat. Kata temen saya “kalau mau foto-foto di air terjun mending sekarang biar tidak terlalu lama membuang waktu,” “emangnya disini ada air terjun ?” ucap ane bingung. “tuh, terus aja, air terjun kelihatan aja dari situ”. Kata temen ane. Mendengar ada air terjun kami berempat yang dari Banjarmasin pun langsung cus. Dan ternyata, WAAAHHH….. kami berempat pun bergegas mandi dan foto-foto ria di air terjun. Waktu pertama melihat dan merasakan ademnya air terjun sungai karuh, terasa semua kecapean yang telah dilalui sirna semua karena kaindahan yang kami nikmati.
Setelah semua penat sudah terasa hilang kami pun melanjutkan perjalanan. Nah mulai dari sungai karuh ini kami sudah mulai tidak berkelompok, kelompok pertama ada 4 orang dan kelompok yang kedua ada 5 orang. Perjalanan pun kami teruskan meski medan perjalanan sudah mulai terlihat sulit dari sebelumnya. Jam menunjukan pukul 17 lewat lupa detailnya. Perjalanan yang normalnya dua hari dijalani kami paksakan untuk menjadi satu hari, jadilah pendakian kali ini sampai malam. Jangan tanya bagaimana keadaan saat pendakian malam saat itu, sudah pasti menyeramkan. Kelompok petama yang terdiri ane, Yakin, Yudi, dan Amat. Perlahan-lahan berjalan melewati jalan setapak dan untuk peneragan kami hanya memiliki dua senter. Dinginnya malam pun sudah mulai menyapa kulit, suara binatang malam pun mulai berkicau, pandangan lurus kedepan memperhatikan jalan yang dilalui. Hingga sampailah pada peristirahatan yang terakhir yaitu Penyaungan. Di sini kami istirahat sebentar melepas penat dan mengisi botol air mineral yang kosong untuk bekal dipuncak nanti. Setelah selesai kami pun kembali melakukan pendakian dan ini merupakan pendakian yang terberat. Sekitar 2 jam pendakian kami pun akhirnya sampai di puncak tertinggi Kalimantan Selatan, puncaknya Pegunungan Meratus, Halau-halau 1.901 MDPL. Waktu itu sekitar pukul 20. Ane pun berteriak sekencangnya-kencangnya mengucapkan Allahuakbar… Sujud Syukur karena berhasil sampai tujuan dengan selamat. Jangan tanyakan bagaimana pemandangan yang di anugrahkan tuhan kepada mata kami saat itu. Tidak bisa di ungkapkan dengan tulisan. Istirahat sebentar, kemudian mendirikan tenda, tidur.
Sekitar pukul 23 terdengar suara temen-temen yang lain ternyata mereka baru nyampai. Kami tanyakan kenapa begitu lama baru nyampe, merekapun bercerita ternyata mereka beberapa kali nyasar dan ditempat yang sama sebanyak 3 kali tetapi Alhamdulillah masih selamat sampai puncak.
Pagi harinya kami kembali dimanjakan oleh Allah dengan pemandangan yang sangat-sangat indah terhampar luas samudra awan dibawah kaki. Sekitar pukul 11 siang baru kami turun kebawah untuk pulang dan sampai perkampungan skitar pukul 21 tidak langsung pulang tapi istirahat terlebih dahulu ketempatnya Ami/Edi Y , besok paginya baru kembali pulang ke Banjarmasin. 


mulai pendakian desa kiu

mulai dari kanan foto, Yudi, Adi, Fany, Yakin, Amat, Villo, Arif, Ane gan, dan Ajir

Edi Y, Fany, dan Villo. pondokan tempat istirahat di Rempah Sungai Karuh





air terjun sungai karuh


sunrise yang terlewatkan



















 salam rimba untuk kalian sobat





 istirahat di pesaungan
foto bareng bocah-bocah pendaki dari Desa Kiyu di Pesaungan


jalan setapak 

Rabu, 10 Juni 2015

satu malam di puncak Gunung Sariyafati, Riam Kanan.

hai sobat rimba... ketemu lagi nih. kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan kami yang agak berbau horor di Riam Kanan. tepatnya puncak Gunung Sariyafati.
oke langsung saja, hari ini, hari selasa tanggal 9 Juni 2015 pukul 14:00 WIT. Rencananya mau berangkat ke Riam Kanan bersama teman-teman untuk menikmati malam di atas puncak Gunung Sariyafati. Berangkat dari Banjarmasin menuju Banjarbaru agak terburu-buru soalnya sudah ditunggu sama teman yang datang jauh-jauh dari Amuntai, yah ga enaklah kalau mereka yang datang dari jauh-jauh terpaksa harus menunggu lama lagi. Terpaksa saya harus tancap gas agak ugalan-ugalan dikitlah tapi saya juga mengingat akan pentingnya keselamatan. Sampai di Lianganggang awan mendung sudah mulai menurunkan air hujannya, gerimis. Meskipun sudah mulai gerimis saya tetap melajukan motor yang saya tunggangi tanpa menghiraukan jaket yang sudah mulai kuyup. Tepat sesudah melewati bundaran lapangan pesawat Syamsudinnor sayapun terpaksa berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan. Hujan turun dengan derasnya tetapi Alhamdulillah sewaktu sampai di bundaran simpang empat Banjarbaru, tempat teman saya menunggu, ternyata disana tidak turun hujan sama sekali.
Sesampainya disana saya dan teman yang saya boncengi pun melepaskan jas hujan yang kami kenakan. Eh lupa, kali ini jumlah kami yang naik gunung cuman lima orang termasuk saya, dua orang berangkat dari Amuntai tiga orang termasuk saya dari Banjarmasin. tidak banyak bertele-tele kami berlima pun langsung capcus menuju Riam Kanan, rencananya mau menikmati sunset dari puncak tapi …. Yah yang namanya juga manusia cuman bias berencana dan tuhan yang menentukan rencana kita. Sebelum mencapai Riam Kanan kami kembali dibasahi oleh derasnya hujan dan ini lebih deras dari yang pertama tadi, tapi kami tetap meneruskan perjalanan dan sebelumnya kami berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan masing-masing. Ingat salah satu perlengkapan outdor adalah jas hujan karena kita tidak tau cuaca akan bersahabat atau tidak, selain itu jas hujan juga bisa kita gunakan sebagai alas bagi yang lupa bawa matras, he…. Yap lanjut.
Meski sudah mengenakan jas hujan tetap aja baju yang kami kenakan basah, meski ga terlalu basah juga… sesampainya di parkiran Riam Kanan kami tidak langsung naik kepuncak, melainkan menunggu hujan reda. Sambil menunggu hujan reda kamipun berbincang-bincang dengan paman penjaga parker. “Mau naik kemana mas hujan-hujan gini” kata paman parker. “Naik ke gunung yang di sebelahnya Paliangan paman” kata kami. “hati-hati nanti waktu di puncak” kata pamannya lagi. “emangnya ada apa paman”  Tanya kami penasaran. “malam sebelumnya para pendaki yang naik ke Paliangan ada yang melihat cewe beramput panjang pakai baju putih duduk di atas pohon”. Kami cuman diam seakan ingin mendengarkan cerita paman parker lebih lagi. Kata pamannya lagi “sebenarnya puncak yang disananya Paliangan itu juga ada penunggunya, yang bisa lihat, katanya makhluk itu bertubuh besar kaya raksasa”. Kami cuman bisa menjawab “inggih paman”. “yah selama kita tidak mengganggu mereka, mereka juga ga bakalan mengganggu kita” kata salah satu temanku untuk menenangkan kami. Hujan pun reda saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17:? Kami pun naik tanpa menghiraukan apa yang telah paman parker ceritakan tadi. Awal-awal pendakian, sudah terasa menantang soalnya untuk menuju puncak Paliangan saja harus melewati jalan yang curam dan Alhamdulillah di jalan-jalan yang curam dikasih tali utuk mendaki ke atas oleh para penduduk local. Sesampainya di puncak Paliangan hujan gerimis mulai mengguyuri kami kembali tapi itu tidak menyurutkan keinginan kami yang ingin menikamati malam di atas puncak Sariyafati. Sebenarnya perjalanan kali ini bisa dibilang opentrip karena hamper tidak ada jalur jalan menuju Sariyafati. Perlahan namun pasti kami melangkahkan kaki meski adzan magrib sudah berkumandang dan gerimisnya hujan yang tak berhenti. Sekitar satu jam setengah kamipun akhirnya sampai di puncak Sariyafati. Kami pun bergegas mendirikan tenda takutnya hujan semakin deras. Tenda pun udah selesai dan hujanpun berhenti. Alhamdulillah… abis sholat isya kami pun memasak nasi di nesting dengan lauk seadanya, iwak karing saluang lawan hantalu bacacapan. Hen nyaman kalo. Sewaktu makan kataku kepada temen-temen. “ini memang makanan sederhana dan ditempat yang tidak mewah, tetapi orang-orang kaya ga bakalan ngerasain bagaimana nikmatnya makanan yang sedang kita santap saat ini”, “kebersamaan” tambah temanku, “iya-iya” kata temen-teman yang lain mengiyakan apa yang kami katakana tadi.
Dua tenda yang kami pasang kami jadikan satu, dua cewe dalam tenda satunya sedangkan kami cowo bertiga dalam satu tenda, dan Alhamdulillah kami berlima muat berkat dua tenda yang kami jadiin seperti satu tenda. Bingung bagaimana caranya menjadikan dua tenda menjadi satu? Makanya sering-sering naik gan, sis… he… nanti kalau kepepet juga kalian bakalan tau bagaimana caranya :D. oke terus ke alur cerita, setelah makan kami pun bercanda gurau dalam tenda mulai dari omong ini itu sampai pukul 23:47 malam, tanpa kami sadari omongan kamipun mulai agak berkurang dan saya sendiri sudah tidak sadar pergi kealam mimpi. Mentaripun terbit dengan di iringi tebalnya awan di upuk timur, sehingga kamipun tidak bisa menikmati indahnya sunrise di Pucak Sariyafati. Dan Alhamdulillahnya lagi kami ga diganggu oleh makluh halus tadi malam. Yah selama kita sopan orang pun segan. He..


Menikmati keindahan Riam Kanan di pagi hari dari puncak Sariyafati


Keindahan yang kalian lihat di foto jauh lebih indah dengan pemandangan yang disaksikan dengan mata sendiri


Sebelum turun, foto bersama-sama terlebih dulu

puncak Paliangan


Kalau ada waktu sempat-sempatlah mampir kemari



Nb : habiskan waktumu dengan hal yang bermanfaat, baik itu pikiran, waktu dan keuangan.

Minggu, 07 Juni 2015

B. Priangan edisi kedua 31 Mei 2015

Hei sobat Rimba… ketemu lagi nih. Kali ini saya bakalan posting edisi B. Priangan edisi yang ke dua.
He….
Kemaren kan ane dah janji tuh bakalan kasih tau deskripsi jalan menuju ke B. Priangan. mula-mula kalau dari Bjm jalan terus aja sampai kota Pelaihari. terus nanti bakalan nyampe bundaran kijang, taukan… yang di dekatnya ada pom bensin. Nah bila dah nyampe tuh bundaran ambil kanan, sebenarnya kalau mau ambil kiri juga bisa nanti lewat kompek perkantoran tapi ane kurang tau. Oke kita mabil jalur kanan, arah menuju kota Batu Licin. Terus aja tuh sampai nyampe bundaran kedua, bundaran sapi di atas bundaran ada patung jagung gede. Terus aja jangan ambil jalur kiri. Jalan terus aja sampai nanti ketemu pom bensin. Naaahh ga jauh dari pom bakalan ketemu moshola tepat di depan moshola ada tulisan Desa Bumi Jaya (jalan masuknya sebelah kiri). Terus aja ikutin jalur jalan, kalau nanti ketemu pekuburan umum terus aja, sebenarnya ada persimpangan sebelum pemakaman tapi jangan masuk persimpangan tersebut. Terus aja sampai melewati pekuburan umum, ga jauh dari sana nanti bakalan ketemu bundaran kecil ambil jalur kanan, bundarannya depan mesjid, ga jauh setelah itu bakalan ada tulisan sepanduk di sebelah kanan “Bukit Priangan” kalau ga salah yah yang pasti disitu ada aja penunjuknya…
Nah kalau dah nyampe disitu terus aja… nanti bakalan melewati jalan yang belum beraspal, kemudian melewati perkebunan getah lalu melewati perkebunan jagung, jalannya agak sakit siiih yah yang namanya petualangan kan memang harus ada tantangan… benar ga? He…  kalau dah nyampe perkebunan nanti bakalan ketemu persimpangan tiga ambil jalur kanan setelah itu bakalan ketemu persimpangan empat, ambil jalur kiri teruuuss nanti bakalan ada tulisan tempat parkir, naik aja ke atas (perkebunan karet) naah selamat anda sudah nyampe BUKIT PRIANGAN.

Hello…. Saatnya bercerita.
He…
Perjalanan kali ini lamayan banyak lah yang ikut, biasanya kalau jalan-jalan ke puncak yang ikut itu paling banyak cuman 6-7 orang. Entah kenapa kali ini lumayan banyak peminatnya, mungkin karena ingin menyegarkan isi kepala dari padatnya kegiatan yang telah diadakan, yah namanya juga berorganisasi pasti lah yang namanya waktu, pikiran bahkan keuangan itu harus di sumbangkan keorganisasi, he… bukan mahasiswa namanya kalau tidak berorganisasi, itu menurut saya pribadi terserah orang mau bilang apa. Eh malah keluar dari alur cerita. Oke kita kembali lagi, adapun yang ikut naik kali ini berjumlah 23 orang termasuk saya sendiri lumayan banyakkan… tenda yang dibawa cuman ada 5, kan kampret. Haaaaa….. becanda boy.
Rencananya mau berangkat pukul 2 siang biar sempat gitu menikmati sunset, tapi yah apa dikata kalau cuacanya ga dukung. Waktu berangkat pukul 2:04 WIT cuacanya sudah mulai agak mendung… sampai di km 5 sudah mulai gerimis terus aja nih siapa taukan di Gambut cuacanya cerah ternyata waktu nyampe km 10,7 tiba-tiba hujan turun cukup deras yaaah terpaksa kami harus berteduh, untung ada warung makan yang belum buka jadi kami bisa berteduh ditempat tersebut. he…
Sekitar setengah jam berlalu baru lah hujan mulai reda dan kamipun meneruskan perjalanan. Dan ternyata di Gambut juga hujan deras tuh tadi tapi untung udah reda. Sampai di kota Pelaihari kamipun mencari mesid untuk sholat Ashar sebentar setelah itu meneruskan perjalanan. Sebenarnya perjalan kali ini bisa dibilang opentrip soalnya tidak ada yang tau jalan selain ane gan dan sialnya lagi ane lupa jalan menuju kesana, yah jadilah bertanya kepada penduduk local. “malu bertanya sesat dijalan” he…  tapi Alhamdulillah akhirnya nyampe juga di Desa Bumi Jaya B. Priangan dan kamipun tidak sempat menikmati sunset di atas puncak, tapi cuman bisa menikmati dari tengah-tengah bukit tapi lumayan lah dari pada tidak sama sekali.

menikmati sunset, yang punya ni kaki vhita dia punya nama,

Suasana malam hari, masak air
Dari yang cewe namanya Vita trus yang pake baju biru ane gan, yang pake baju putih Ajir yang pake baju item Aat yang pake masker itu Atin

Ini ane ama uwiw temen ane gan. Yang dibelakang sana tuh, bukan kelompok kami gan

Yaelah….

Penikmat alam. Haaaaa

Ini temen juga gan -_- ane kesini ga bawa gebetan T_T

Foto semua

Ini mau ngapain coba -_-

Ini foto paling keren no 2 deh nurut ane gan


Nah ini foto yang paling keren deh. Hahaaaa
Anak Taekwondo harus bisa dong kya gini… (lagi senyum sombong nih)
haaaaa... becanda.
Yah mungkin sampai sini aja dulu gan, sampai bertemu lagi ya..

Nb : tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk menuju kepuncak tertinggi

Sabtu, 06 Juni 2015

edisi pertama ke B. Priangan 29 Maret 2015

hey sobat... ini perjalanan pertama yang akan ane posting.. yah meski ini bukan pertama kali ane jalan-jalan, cuman pengen aja posting ini yang pertama.
he....

ini ceritanya kami berlima. pengen malam mingguan di alam bebas... biasalah cari suasana baru, sumpek dengan keramain kota dan peliknya kehidupan perkotaan
haaaaa....
untuk penjelasan jalan menuju kesana nanti yaa.... insya Allah dijelasin untuk B. Priangan edisi kedua




edisi siluet


suasana pagi minggu di atas bukit


ini ane . hee..


abaikan yang dibelakang yah :D


wakwaw... :D

end. untuk edisi pertama